Ramalan Pakar Ekonomi: Alasan Mengapa Harga Emas Masih Akan Terus Meroket Tahun Ini

Di tengah fluktuasi pasar keuangan global, emas kembali membuktikan statusnya sebagai aset “safe haven” utama. Banyak investor mulai bertanya-tanya: apakah kenaikan harga emas saat ini sudah mencapai puncaknya? Menurut para pakar ekonomi, jawabannya cenderung tidak. Sebaliknya, ada proyeksi kuat bahwa harga emas masih memiliki ruang yang luas untuk terus meroket sepanjang tahun ini.

Lantas, apa saja faktor fundamental yang mendasari optimisme para ahli tersebut? Berikut adalah ulasan mendalamnya.

1. Ketidakpastian Geopolitik Global

Ketegangan di berbagai belahan dunia masih menjadi pemicu utama investor beralih ke emas. Secara historis, emas selalu menjadi pelarian paling aman ketika terjadi konflik antarnegara atau ketidakstabilan politik. Selama risiko geopolitik masih tinggi, permintaan terhadap emas akan tetap solid, yang secara otomatis menjaga tren harga tetap di jalur hijau.

2. Sinyal Penurunan Suku Bunga Federal Reserve (The Fed)

Pakar ekonomi menyoroti kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai determinan utama. Ada ekspektasi kuat bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mulai memangkas suku bunga atau setidaknya menghentikan tren kenaikan. Ketika suku bunga turun, daya tarik dolar AS dan imbal hasil obligasi berkurang, sehingga emas yang tidak memberikan bunga menjadi jauh lebih menarik bagi para pemegang modal.

3. Ancaman Inflasi yang Masih Membayangi

Meskipun berbagai negara berupaya menekan inflasi, nilai mata uang tetap rentan terhadap penurunan daya beli. Emas telah lama dikenal sebagai alat lindung nilai (hedging) terbaik terhadap inflasi. Selama biaya hidup dan harga barang global belum sepenuhnya stabil, investor akan terus menumpuk emas untuk menjaga kekayaan mereka agar tidak tergerus.

4. Pembelian Masif oleh Bank Sentral Dunia

Salah satu faktor yang jarang disadari publik adalah aksi borong emas oleh bank sentral di berbagai negara, terutama negara-negara berkembang. Untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar (dedolarisasi), banyak bank sentral mulai mendiversifikasi cadangan devisa mereka ke dalam bentuk emas batangan. Permintaan institusional berskala besar inilah yang menciptakan “lantai” harga yang kuat bagi emas.

5. Ketakutan akan Resesi Ekonomi

Meskipun pertumbuhan ekonomi di beberapa sektor mulai pulih, bayang-bayang perlambatan ekonomi global atau resesi masih menghantui. Dalam psikologi pasar, ketakutan adalah bahan bakar utama kenaikan harga emas. Semakin besar kekhawatiran pelaku pasar terhadap kesehatan ekonomi global, semakin deras aliran dana yang masuk ke komoditas logam mulia ini.


Kesimpulan

Kombinasi antara ketidakpastian politik, kebijakan moneter yang melonggar, dan strategi diversifikasi global membuat emas diprediksi tetap menjadi primadona di tahun ini. Bagi investor ritel, momentum ini sering dianggap sebagai peluang untuk memperkuat portofolio sebelum harga mencapai titik tertinggi baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *