Berita  

Upaya pengurangan emisi karbon dan target nasional

Menuju Indonesia Hijau: Upaya Pengurangan Emisi Karbon dan Target Nasional yang Ambisius

Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi umat manusia di abad ke-21. Fenomena ini, yang sebagian besar dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer – terutama karbon dioksida (CO2) dari pembakaran bahan bakar fosil – mengancam keberlanjutan ekosistem, perekonomian, dan kesejahteraan sosial. Indonesia, sebagai negara kepulauan besar dengan keanekaragaman hayati yang kaya dan rentan terhadap dampak perubahan iklim, memikul tanggung jawab besar sekaligus memiliki potensi signifikan dalam upaya mitigasi global. Artikel ini akan mengulas secara mendalam urgensi pengurangan emisi karbon, berbagai upaya strategis yang dilakukan Indonesia, serta target nasional yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Urgensi Pengurangan Emisi Karbon: Mengapa Kita Harus Bertindak?

Emisi karbon, terutama dari aktivitas antropogenik seperti industri, transportasi, energi, pertanian, dan perubahan fungsi lahan, telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global. Konsekuensi dari pemanasan global ini sangat beragam dan merugikan, meliputi kenaikan permukaan air laut, intensifikasi cuaca ekstrem (banjir, kekeringan, badai), krisis pangan dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ancaman kesehatan masyarakat.

Bagi Indonesia, dampak perubahan iklim sangat nyata dan mendesak. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, kenaikan permukaan air laut mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, menyebabkan abrasi, intrusi air laut ke lahan pertanian, dan hilangnya permukiman. Perubahan pola curah hujan memicu kekeringan panjang di satu wilayah dan banjir bandang di wilayah lain, mengganggu sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian banyak masyarakat. Kebakaran hutan dan lahan gambut, yang juga diperparah oleh kondisi iklim, tidak hanya melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif tetapi juga menyebabkan kabut asap lintas batas yang berdampak pada kesehatan dan ekonomi regional.

Mengingat urgensi ini, upaya pengurangan emisi karbon bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kelangsungan hidup generasi mendatang, memastikan stabilitas ekonomi, dan melindungi kekayaan alam yang tak ternilai harganya. Komitmen global untuk membatasi kenaikan suhu di bawah 1,5°C atau setidaknya di bawah 2°C, sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Paris, menuntut setiap negara untuk berkontribusi secara signifikan.

Pilar Utama Upaya Pengurangan Emisi Karbon di Indonesia

Indonesia telah mengidentifikasi beberapa sektor kunci yang menjadi penyumbang emisi terbesar dan, oleh karena itu, menjadi fokus utama dalam strategi mitigasi. Sektor-sektor tersebut meliputi energi, kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (Forestry and Other Land Use/FOLU), industri, limbah, dan pertanian. Pendekatan mitigasi yang diterapkan bersifat holistik, mencakup kebijakan, teknologi, dan partisipasi berbagai pihak.

  1. Sektor Energi:
    Ini adalah penyumbang emisi terbesar di Indonesia, didominasi oleh penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas) untuk pembangkit listrik, industri, dan transportasi. Upaya mitigasi di sektor ini berfokus pada:

    • Transisi Energi: Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT) seperti panas bumi, tenaga surya, tenaga air, angin, dan biomassa. Pemerintah menargetkan porsi EBT dalam bauran energi nasional terus meningkat.
    • Efisiensi Energi: Mendorong penggunaan energi yang lebih hemat di sektor industri, komersial, rumah tangga, dan transportasi melalui teknologi yang lebih efisien dan perubahan perilaku.
    • Pengembangan Infrastruktur Hijau: Pembangunan transportasi massal berbasis listrik, kendaraan listrik, dan infrastruktur pendukungnya.
    • Penghentian Dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara: Merumuskan peta jalan untuk menghentikan operasional PLTU batu bara secara bertahap, sejalan dengan komitmen global.
  2. Sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan (FOLU):
    Sektor FOLU memiliki peran krusial bagi Indonesia, baik sebagai penyumbang emisi signifikan (akibat deforestasi dan degradasi lahan) maupun sebagai solusi alami (penyerapan karbon oleh hutan). Strategi di sektor ini meliputi:

    • Pencegahan Deforestasi dan Degradasi Hutan: Penegakan hukum yang lebih ketat terhadap perambahan hutan ilegal, kebakaran hutan, dan aktivitas yang merusak ekosistem.
    • Restorasi Ekosistem Gambut: Mengembalikan fungsi hidrologis lahan gambut yang rusak untuk mencegah kebakaran dan melepaskan emisi.
    • Rehabilitasi Hutan dan Lahan: Penanaman kembali hutan yang rusak, rehabilitasi lahan kritis, dan pengelolaan hutan lestari.
    • Perhutanan Sosial: Memberikan akses pengelolaan hutan kepada masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan dan mendorong praktik pengelolaan yang berkelanjutan.
    • Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Peningkatan sistem deteksi dini, patroli, dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan Karhutla.
  3. Sektor Industri:
    Peningkatan efisiensi energi, adopsi teknologi rendah karbon, dan penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan menjadi fokus utama. Konsep ekonomi sirkular juga diterapkan untuk mengurangi limbah dan emisi dari proses produksi.

  4. Sektor Limbah:
    Pengelolaan limbah padat dan cair yang lebih baik, termasuk daur ulang, kompos, dan pemanfaatan limbah menjadi energi (waste-to-energy), sangat penting untuk mengurangi emisi metana (CH4) dari tempat pembuangan akhir.

  5. Sektor Pertanian:
    Penerapan praktik pertanian berkelanjutan, seperti pertanian organik, pengelolaan lahan tanpa bakar, dan peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, dapat mengurangi emisi GRK dari sektor ini.

Target Nasional Indonesia: NDC dan Net Zero Emission

Indonesia telah menunjukkan komitmen kuatnya terhadap mitigasi perubahan iklim melalui penetapan target yang ambisius.

  1. Nationally Determined Contribution (NDC):
    Sebagai bagian dari Perjanjian Paris, Indonesia pertama kali menyampaikan NDC pada tahun 2016. Target awal adalah pengurangan emisi GRK sebesar 29% dengan upaya sendiri (unconditional) dan 41% dengan dukungan internasional (conditional) pada tahun 2030, dibandingkan dengan skenario business-as-usual (BAU).

    Pada tahun 2022, Indonesia menyampaikan Enhanced NDC yang lebih ambisius. Target pengurangan emisi GRK ditingkatkan menjadi 31,89% dengan upaya sendiri (unconditional) dan 43,2% dengan dukungan internasional (conditional) pada tahun 2030. Peningkatan target ini mencerminkan komitmen yang lebih kuat dan pengakuan terhadap urgensi tindakan iklim.

    Distribusi target pengurangan emisi dalam Enhanced NDC dibagi berdasarkan sektor:

    • Energi: 12,5% (unconditional) / 15,3% (conditional)
    • FOLU: 17,2% (unconditional) / 20,9% (conditional)
    • Limbah: 0,4% (unconditional) / 0,5% (conditional)
    • Industri: 0,2% (unconditional) / 0,2% (conditional)
    • Pertanian: 0,1% (unconditional) / 0,1% (conditional)
  2. Net Zero Emission (NZE):
    Lebih jauh lagi, Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat. NZE berarti bahwa jumlah emisi GRK yang dilepaskan ke atmosfer tidak lebih besar dari jumlah emisi yang diserap kembali atau dihilangkan dari atmosfer. Target ini adalah visi jangka panjang yang memerlukan transformasi fundamental di seluruh sektor ekonomi dan masyarakat.

    Untuk mencapai NZE 2060, Indonesia menyusun strategi jangka panjang yang mencakup:

    • Pengembangan Energi Terbarukan Skala Besar: Membangun kapasitas EBT secara masif, termasuk hidrogen hijau dan amonia hijau.
    • Pensiun Dini PLTU Batu Bara: Mempercepat pengakhiran operasional PLTU batu bara dan menggantinya dengan sumber energi bersih.
    • Elektrifikasi Transportasi dan Industri: Mengalihkan penggunaan bahan bakar fosil ke listrik di sektor transportasi dan industri.
    • Implementasi FOLU Net Sink 2030: Mencapai kondisi di mana sektor kehutanan dan penggunaan lahan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan, yang ditargetkan tercapai pada tahun 2030 sebagai langkah awal menuju NZE.
    • Penerapan Teknologi Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon (CCUS/CCS): Mengembangkan dan menerapkan teknologi untuk menangkap emisi CO2 dari sumber-sumber besar dan menyimpannya secara permanen.
    • Pengembangan Ekonomi Sirkular dan Bioekonomi: Mendorong efisiensi sumber daya dan mengurangi limbah di semua tingkatan.

Tantangan dan Peluang

Meskipun target dan strategi telah ditetapkan, perjalanan menuju Indonesia hijau tidak lepas dari tantangan. Pendanaan menjadi salah satu hambatan terbesar, mengingat investasi besar yang diperlukan untuk transisi energi dan restorasi ekosistem. Teknologi rendah karbon dan adaptasi iklim masih memerlukan pengembangan dan transfer. Kapasitas sumber daya manusia juga perlu ditingkatkan untuk mengelola dan mengimplementasikan proyek-proyek mitigasi yang kompleks. Selain itu, koordinasi lintas sektor dan antarlembaga menjadi kunci untuk memastikan implementasi kebijakan yang efektif dan terintegrasi.

Namun, di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar. Transisi menuju ekonomi hijau dapat menciptakan lapangan kerja baru, mendorong inovasi teknologi, dan menarik investasi hijau dari dalam maupun luar negeri. Indonesia memiliki potensi EBT yang melimpah, khususnya panas bumi, surya, dan hidro, yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian baru. Keberhasilan dalam mitigasi iklim juga akan meningkatkan citra Indonesia di mata internasional sebagai pemimpin iklim di negara berkembang, membuka akses ke dukungan finansial dan teknis global.

Peran Berbagai Pihak

Pencapaian target pengurangan emisi karbon dan NZE memerlukan sinergi dari seluruh elemen bangsa:

  • Pemerintah: Bertanggung jawab dalam merumuskan kebijakan, regulasi, dan peta jalan yang jelas, serta memastikan implementasi dan pengawasan.
  • Sektor Swasta: Berperan sebagai agen perubahan melalui investasi dalam teknologi hijau, inovasi berkelanjutan, dan penerapan praktik bisnis rendah karbon.
  • Masyarakat Sipil dan Akademisi: Berkontribusi dalam riset, edukasi, advokasi, serta mendorong perubahan perilaku dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
  • Komunitas Internasional: Memberikan dukungan finansial, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas kepada Indonesia.

Kesimpulan

Upaya pengurangan emisi karbon dan pencapaian target nasional Net Zero Emission adalah sebuah perjalanan panjang dan kompleks yang menuntut komitmen, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan. Indonesia telah menunjukkan keseriusannya dengan menetapkan target NDC yang lebih ambisius dan visi NZE 2060. Melalui strategi yang komprehensif di sektor energi, FOLU, industri, limbah, dan pertanian, serta dukungan dari berbagai pihak, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Meskipun tantangan yang dihadapi tidak kecil, peluang yang terbuka untuk menciptakan masa depan yang lebih lestari, adil, dan sejahtera jauh lebih besar. Dengan semangat gotong royong dan visi jangka panjang, Indonesia dapat tidak hanya melindungi bangsanya dari dampak perubahan iklim tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap upaya global untuk menjaga planet ini bagi generasi mendatang. Menuju Indonesia Hijau bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *